Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerber

Cerita-cerita Noona B

   Noona B. Seorang gadis yang hidup dari seorang ayah yang berjualan roti. Anak yang manis dan penurut ini juga sedikit pendiam. Namun ia tak segan membantu orang lain. Ia juga bercita-cita membuka gerai makanan dengan menu utama BURGER.       Saat lulus SMA ia memutuskan untuk terjun ke dunia kuliner. Tapi tidak semudah yang ia bayangkan. Ia mengalami kesulitan mulai dari dana dan kebutuhan yang lainnya. Ia juga harus berhadapan dengan Mugi. Lelaki yang jadi pesaingnya di bisnis itu.        Jadi ikuti saja ya kisahnya. Di Instagram :)

Makyong __ RiauPos, 18 mei 2014

Oleh Cikie Wahab Aku mendapatkan telepon dari Mak Diah, sepupu Abak di Bintan, kepulauan Riau. Ini telepon kedua setelah semalam aku dengan sengaja tidak mengangkat telepon karena tidak ingin tahu apa yang akan ia katakan. Akhirnya mau juga aku mengangkat teleponnya dan mendengarkan Mak Diah bersuara. Suaranya yang masih nyaring setelah dua tahun kami tidak bersua. Pasti Abak yang memaksanya, agar aku segera pulang akhir bulan dan merepetkan banyak hal terutama tentang warisan yang Abak janjikan. Warisan Abak bukan sembarang warisan. Abak berkenan menjadikan aku penerus seni tradisi Makyong. Aku tidak bisa membantah Mak Diah melewati telepon. Aku Cuma ingat yang ia katakan kalau Abak sakit dan memintaku pulang. Mak Diah meyakinkanku kalau tak ada perbincangan tentang warisan yang menjadi alasan aku meninggalkan Abak beberapa tahun ini. Aku terdiam. Walau bagaimanapun aku punya Abak. Laki-laki yang menikahi Amak dan membuat aku bisa bersekolah ke perguruan tinggi di Pekanbar...

Tak Sampai di Wina. Bagian 1

JULI. 2011 Keluar dari Hotel, Wina menenteng coklat Sachertorte untuk ia bawa ke Karnter Strasse , pusat perbelanjaan yang terbentang dari alun-alun Stephenplatz . Ia duduk di salah satu bangku dan mengunyah coklat itu hingga lumer. Matahari sudah memaksanya untuk keluar daripada berdiam diri dalam kamar. Ia tak hiraukan tatapan orang-orang berambut pirang. Sebentar lagi pukul empat sore, ia ingin sekali menonton paduan suara di gedung opera Wien, gedung yang membuatnya ingin bersembunyi di salah satu tiang besar sambil menunggu teman kencannya datang. Ia suka sekali melihat gedung itu sambil mengkhayalkan seseorang. Mulutnya terus saja mengunyah pelan dan tak menyadari ada orang yang tengah memperhatikannya dari belakang “Musim panas yang indah, Win?” orang itu mengejutkannya “Billi!! Kau membuatku kaget. Ah, ini bulan juli. Musim karnaval, bukan? Coklat ini enak!” Wina menyodorkan coklat itu, tapi Billi menolak. Ia bisa   gemuk jika makan yang enak terus-terusan. “Aku...