Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Esei

Sastra Dalam Memoar~ Sebuah Review

The Other Side of Me Sejak umur belasan tahun ia menjadi kurir obat dan merasa pekerjaan itu adalah pekerjaan paling sempurna. Ia punya kesempatan mencuri obat tidur dalam jumlah cukup untuk bunuh diri. Ia dilanda depresi yang hebat, tersingkir dan tersesat. Ia adalah Shidney Sheldon. Lahir di Chicago. Anak pertama dari pasangan Natalie dan Otto. Sidney Sheldon (11 februari 1917 - 30 Januari 2007)   adalah pengarang Amerika yang memperoleh sejumlah penghargaan dalam tiga bidang karirnya. Ia penulis drama Broadway, pengarang skenario tv dan film Hollywood, serta novelis yang karyanya sangat laris. Karya-karyanya antara lain; The Merry Window, Jackpot, Alice in Arms, South of PanamaThe Bachelor and the Bobby-Soxer, Rich Young and Pretty, Dream Wife, The Patty Duke Show, Nancy dan puluhan novel lainnya. Shidney Sheldon mengemukakan ketertarikannya dalam dunia kepenulisan agar apa yang ia tulis dalam sebuah buku, pembaca tak akan melepaskan buku itu hingga selesai membaca...

KINOLI ~Perempuan dan Perasaan

Sebuah review Perempuan adalah sosok yang penuh daya tarik dalam segala sisi kehidupan. Ia punya banyak teka- teki, kelembutan dan kemampuan menyimpan segala perasaan dan kecantikan yang diidamkan. Sementara dalam ilmu psikologi, perempuan dikatakan lebih sulit untuk berpikir logis dan jernih karena mereka mendominasikan perasaan dalam segala tindakan. Jika suatu masalah datang maka perempuan akan berpikir lebih rumit dan bercampur aduk. Menyebabkan tindakan yang terjadi justru kadang melukai perempuan itu sendiri. Dengan daya tarik perempuan dan perasaannya yang paling peka, banyak pelaku sastra mencoba mengedepankan hal-hal yang berbau feminisme tersebut. Yetti A.KA merupakan satu dari sekian penulis yang karya-karyanya bercerita mengenai perempuan. Bagaimana Yetti mengedepankan sosok perempuan-perempuan sebagai subjek dan terkadang menjadi objek dari kehidupan yang penuh tantangan. Dalam kumpulan cerpennya yang berjudul KINOLI, terangkum lima belas cerpen yang diterbitkan ...

Kebodohan Kita

   Suatu hari saya menemukan diri saya sudah tidak lagi sama seperti kemarin. Saya pilek dan tidak tahu harus makan apa. Seseorang sudah membuat saya begini. Saya melihat matahari dengan silau yang membuat mata saya sakit. Saya bersin berkali-kali.    Kemudian saya  harus berjalan seorang diri. Ruangan yang luas tampak sepi dan saya tidak menemukan Dia di sana. Oh ya. Bukankah Dia sudah pergi. Saya lupa bahwa dia sudah pergi sejak dua tahun lalu. Saya menemukan kenyataan itu dengan mata yang memerah.   Saya makan sendiri di dapur dan tidak ada yang menyuapi saya seperti kemarin.  Saya menemukan keheningan dalam setiap pagi saya dan saya berusaha untuk melihat keluar dan memandangi matahari yang tetap saja bersinar.   Saya mencoba menelepon seseorang, saya mencoba untuk tetap baik-baik saja.   Teman saya itu tertawa dan mengatakan saya bodoh. Bodoh memang jika terlalu mencintai seseorang. Saya katakan kepadanya bahwa saya mencintai apa yan...

Catatan 1

   Pagi yang cerah. Selalu.    Aku menemukan fakta bahwa cinta memang tidak mengenal jarak dan waktu. Namun aku masih menyangsikan (Ragu.red)  akan kekuatan cinta yang demikian. Bagaimana tidak, saat hujan datang dan kita meminta kekasih membawakan makanan serta kehangatan, kita malah kedinginan. Mendekap telepon seluler dengan gundah, memasang tampang "paling jelek" sedunia.    Ah, seharusnya sebagai sepasang kekasih, apalagi suami istri (amin) engkau harusnya selalu ada di sampingku. Tidak harus di rumah selalu, tapi cukup kau tahu bagaimana aku membutuhkanmu. Menertawakan kebodohan kita bersama dan merayakan kasih sayang yang paling indah.    Lalu kau membantuku mencuci peralatan dapur, aku membersihkan pakaianmu yang dipenuhi keringat kerja keras. Kita akan makan dengan diam dan mengakhirinya dengan sebuah ciuman. Maka jarak apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih??? pertimbangan yang aneh bahkan untuk saling mendekap bahu saja tidak ...

Realitas Sosial dalam Tunggu Aku di Sungai Duku

Namun aku merasakan sesuatu yang lain ketika memasuki tempat ini. Aku tak peduli apakah ini penjara bagi pesakitan, perampok, pemerkosa, koruptor, bromocorah kambuhan atau esidivis kelas kampong. Kalau engkau ingin tahu Maria, aku merasa inilah tempat yang baik bagi pikiranku, setidaknya aku merasa hidup yang lebih bebas dan pikiranku bisa berjalan dengan seluas-luasnya.(Penjara:3) Begitulah apa yang dirasakan Rusdi, tokoh protagonis  dalam cerpen berjudul “Penjara”. Ia berkeyakinan bahwa ada penjara yang lebih dalam, lebih tinggi, dan lebih kokoh dan lebih segalanya dari apa yang  sekarang dirasakan Rusdi. Penjara yang membuat kerangkeng kebebasan menjadi sebatas angan-angan, dan di dalamnya menyelinap kekecewaan, keletihan yang amat dalam. Tapi, satu hal yang mampu membuat Rusdi bias berpikir lebih tenang ialah karena cinta. Sebuah ukuran kebahagiaan yang kerap membuat manusia mampu bertindak seperti dewa. Cerpen ini menjadi cerpen pembuka dalam kumpulan cerpen T...

Ulasan buku MADRE_Dee

Meramu Cerita dalam Madre Oleh cikie wahab Ramuan pertama Seberapa hebatkah pengetahuan dalam sebuah karya sastra. Ia melebihi gedung yang tinggikah atau jalanan yang tiada pernah berbatas? Jawabannya bisa beragam. Pengetahuan itu laksana dian, sesuatu yang mencerahkan. Ketika ia diramu dengan segala komponen bahasa yang indah, ia akan bergeliat dan membuat kita penasaran hingga tertawan. Sebagai salah seorang penulis yang mengawali kiprahnya dalam dunia selebritas, Dewi Lestari atau yang akrab dikenal dengan sebutan Dee ini, menggiring kemampuannya untuk mengembangkan sesuatu hal yang ia tahu dengan banyak hal yang orang lain belum ketahui. Konon, penulis yang baik ialah menulis dari apa yang ia tahu, maka ketika ia menulis dengan mencari tahu tentang apa yang orang lain tidak tahu, itulah penulis yang lebih baik. MADRE, merupakan buku Dee yang ketujuh, sekaligus kumpulan fiksi ketiga setelah Filosofi Kopi (2006) dan Rectoverso (2008). Madre diterbitkan oleh Bentang p...