Skip to main content

Posts

Kebodohan Kita

   Suatu hari saya menemukan diri saya sudah tidak lagi sama seperti kemarin. Saya pilek dan tidak tahu harus makan apa. Seseorang sudah membuat saya begini. Saya melihat matahari dengan silau yang membuat mata saya sakit. Saya bersin berkali-kali.    Kemudian saya  harus berjalan seorang diri. Ruangan yang luas tampak sepi dan saya tidak menemukan Dia di sana. Oh ya. Bukankah Dia sudah pergi. Saya lupa bahwa dia sudah pergi sejak dua tahun lalu. Saya menemukan kenyataan itu dengan mata yang memerah.   Saya makan sendiri di dapur dan tidak ada yang menyuapi saya seperti kemarin.  Saya menemukan keheningan dalam setiap pagi saya dan saya berusaha untuk melihat keluar dan memandangi matahari yang tetap saja bersinar.   Saya mencoba menelepon seseorang, saya mencoba untuk tetap baik-baik saja.   Teman saya itu tertawa dan mengatakan saya bodoh. Bodoh memang jika terlalu mencintai seseorang. Saya katakan kepadanya bahwa saya mencintai apa yan...

SOLILUI

Oleh Cikie Wahab Solilui duduk di bangku dengan wajah pucat. Riasan di wajahnya tampak pudar dan matanya mengambang ke arah lampu jalan. Ia menarik napas hingga hidungnya kembang kempis.  Ia segera ambil tisu dari dalam tas kulit berwarna merah dan mulai membersihkan ujung mata, lipstick hingga melap airmatanya yang tumpah. Solilui memandang ke seberang jalan. Toko pakaian di ujung jalan masih buka. Solilui enggan beranjak. Langit terang. Beberapa pasang lelaki dan perempuan tengah sibuk menikmati malam dan bercengkrama memikirkan kemana mereka setelah menghabiskan jagung bakar. Tiba-tiba Solilui merasa muak melihat semua itu. Ia memalingkan muka dan malah menemukan seorang pengamen berdiri di sampingnya. Tanpa permisi menyanyikan lagu yang terdengar sumbang di telinga.  Solilui tidak mengusirnya. Gitar kecil di pelukan pengamen itu menarik minatnya. Ia kembali mengenang pertemuan dengan perempuan yang membuat separuh hatinya berdebar seperti yang ia rasakan seka...

Hari Terakhir, Rud

    Aku melihatmu, Rud. Dengan tengadah menatap langit di luar rumah. Mata memejam sesekali dan tangan yang mengepal erat ke tanah. Angin juga yang membuat mata lentikmu berkedip-kedip menahan perih. Tak kau hiraukan pekik istrimu, Rud. Kau tidak sedang gilakah? Istrimu mencak-mencak di teras rumah, mengatakan beberapa nama di kebun binatang. Aku bergidik, rumah ini seperti gunung merapi yang tengah berapi-api, meluap dan menyerempet nama-nama yang mengalir dari kekecewaan.      Kau mendongak, lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikutimu lagi, ingin memastikan kau tidak berniat bunuh diri. Maka suaramu keluar parau dari tenggorokan yang kering. Kau bilang menyesal telah mengecewakan  istrimu, kau juga tidak bisa menepis hal yang sudah kadung terjadi. Oh Tuhan… pekik istrimu. Tapi kau meringkuk di atas kasur. Pasir menempel di celana dan debu yang melekat di muka.     Istrimu masuk, kembali dengan airmata. Tenaganya habis setelah be...

Catatan 1

   Pagi yang cerah. Selalu.    Aku menemukan fakta bahwa cinta memang tidak mengenal jarak dan waktu. Namun aku masih menyangsikan (Ragu.red)  akan kekuatan cinta yang demikian. Bagaimana tidak, saat hujan datang dan kita meminta kekasih membawakan makanan serta kehangatan, kita malah kedinginan. Mendekap telepon seluler dengan gundah, memasang tampang "paling jelek" sedunia.    Ah, seharusnya sebagai sepasang kekasih, apalagi suami istri (amin) engkau harusnya selalu ada di sampingku. Tidak harus di rumah selalu, tapi cukup kau tahu bagaimana aku membutuhkanmu. Menertawakan kebodohan kita bersama dan merayakan kasih sayang yang paling indah.    Lalu kau membantuku mencuci peralatan dapur, aku membersihkan pakaianmu yang dipenuhi keringat kerja keras. Kita akan makan dengan diam dan mengakhirinya dengan sebuah ciuman. Maka jarak apa yang dilakukan oleh sepasang kekasih??? pertimbangan yang aneh bahkan untuk saling mendekap bahu saja tidak ...

New Book. Shorts Story

Kumpulan cerpen termanis. dalam GAUN SINAR BULAN. ---Pagi-pagi sekali, kabut sudah ada di loteng rumah. jari tangan seorang wanita kembali melukis huruf-huruf menjadi kata dan kalimat di atas meja kaca. Tepat di samping meja, ada figura yang melukis indah kebersamaan mereka. Wanita itu, Yuji dan anaknya. Tulisan itu tak mau hilang meski kabut silih berganti datang (Menjadi Kabut) ---Suara Boni bergetar, lebih kencang dari suara lonceng malam. Ink diam, membaas pelukan Boni lebih erat. ia menatap jauh pohon natal yang berkelap-kelip dari jendela. orang-orang memakai baju hangat, namun ia merasa kaku di bulan desember yang beku. (Desember yang Beku) Dan dua belas cerpen lainnya yang patut anda baca.!! get it at http://www.nulisbuku.com/books/view/gaun-sinar-bulan

Sajak

Jarak yang Dibentang Kecemasan Tahukah kau jarak yang tak sempat kusibak di kala gemetar Atau kata yang mengulum dalam dekap Kita sepasang kekasih yang hilang. Berjatuhan harap ke dasar jurang Berebut malam juga siang Kita kecup dengus yang telanjang Rahasia jalan Genangan yang dilalui air mawar Merindukannya sebesar-besarnya ikatan Di antara jarak yang membentang itu kutemui kecemasan. Kulalui duri tajam. Kusingkap hingga lapang. Kau jarak Yang tak lengkap Aku waktu yang   memilih jalan panjang. Di Balik Hujan Diam kita pada kenangan/ di balik hujan biru/ orang-orang merekam bunyi/ tapak sepatu/ tap..tap..tap../ kita lupa pada hujan yang datang tiba-tiba/ lalu buruburu mengejar gemuruh/ ku tanyakan di mana payungmu/ kau tunjuk kepalaku/ kita gemetar/ derasnya mengalir di kedua mataku// Kekasih Purnama jatuh di matamu Sudah benderang Hatiku karam Cahayanya pecah Menggulung cerita Tapi bulan masih merah Kau menj...

Usai Sepasang

Takbir berdendang harapan telah datang tangisan kemenangan dari makhluk sepasang ambillah sepenuh kemampuan untuk penuhi sejuta keinginan bagi sosok terdepan yang telah kuasai separuh kehidupan jangan rantai senyumnya dengan gelang  bernyawa yang mulai mencari makna dengan kasih kelana ulurkan saja tangan sepasang demi hidup yang akan datang bukan hendak di_cerai hanya bersambung seulur belai dan akhir yang bisa di_eja hanya ketika ia dewasa kini sepasang telah usai dan terdepan telah mulai dalam waktunya yang tertuai ia ternyata lunglai sosok terdepan kesasar kelam tanpa sepasang yang tak lagi memandang