Skip to main content

Posts

Kamisan #2 Seasson 3 : Yang Menunggu Gelombang

Ada yang lupa untuk pulang. Ada yang tidak juga memberi kabar kedatangan. Pada gelombang yang berkejaran, rindu pun digelar. Seseorang menatap jauh ke lautan lepas, ke arah ombak yang berkejaran, juga bayang-bayang matahari yang dihalangi gumpalan awan.  Sore itu ia masih duduk di tepi pantai. Melepas lelah, menikmati penantiannya yang tak kunjung tiba. Jika sudah begitu, ia tidak mendengar hal-hal lainnya. Ia tidak akan pulang dan terus memanggil-manggil nama seseorang dari lubuk hatinya yang paling dalam. *** “Kau mau kemana?” Tanya Antari, suatu malam. Hujan begitu deras di luar dan ia melihat Han tengah menatap ke jendela dan termenung panjang. Di dekatinya lelaki itu dan dipeluknya dari belakang. Tubuhnya menjadi hangat seketika. “Kau tidak kedinginan, sayang?” Tanya Antari lagi. Han menggeleng dan meletakkan jaring-jaring yang ia susun pada sebuah tiang  ke tepi jendela. Antari melihatnya dan kembali bertanya untuk apa benda tersebut. “Aku ingin me...

Kamisan #1 Session 3: ~Memeluk Hujan yang Buruk ~

Ketika ia melihat ke jendela, lamunannya berhenti tapi tetap saja ia tidak mendengar ketukan pintu berkali-kali karena suara hujan yang deras. Tapi saat teleponnya berdering, ia sadar dan bergegas menuju pintu. Membukanya dan menemukan Paul dengan ekspresi sedikit kesal. “Kenapa lama sekali? Aku kedinginan.” Paul masuk dan mengibas jaketnya. Ia menaruh benda itu di gantungan baju. Perempuan itu tidak menjawab dan hanya memandangi hujan yang jatuh lewat pintu. “Kau kenapa? Sakit?” Tanya laki-laki itu lagi. Perempuan itu menggeleng. Hujan selalu memberikan pengharapan padanya. Ia mencoba mengingat kembali hujan yang paling buruk yang pernah ia alami. Lelaki itu duduk setelah mengganti baju dan menaruh kopi panas ke atas meja. Perempuan itu masih melamun dan duduk melihat  jendela, tempias air hujan menimbulkan bayang-bayang di kaca. “Sudah sore begini. Kau mau makan apa?” Tanya Paul. Perempuan itu menggeleng. Lalu berkata lagi Paul, “Katakan sesuatu. Kenapa kau diam saj...

Profesor yang Menuliskan Kematiannya

Terbit di Jawa Pos 10 Januari 2015      Dari sebuah lorong rumah sakit, seorang lelaki berjalan dengan tergesa-gesa. Meskipun yang sebenarnya adalah langkah yang lamban dan terengah-engah. Ia harus segera pergi dari tempat itu setelah beberapa menit sebelumnya ia bertemu Dokter Kum. Lelaki itu sampai juga di parkiran dan membuka kunci mobil. Ia duduk dan menghela napas panjang. Seharusnya ia tidak menyalahkan Dokter Kum atas apa yang dikatakannya beberapa menit setelah ia bertanya banyak hal. Tapi kecemasan lelaki itu menyergap kakinya untuk segera pergi dan kini ia menyesal telah mengetahui tentang apa yang menimpanya belakangan.      Lelaki itu berwajah tua dengan rambut yang hitam pekat. Ia rajin menyemir rambut ubannya ketika matahari belum muncul dan ketika suara pengantar koran melengking di luar pagar. Lelaki itu tentu saja memiliki keluarga. Istrinya memiliki usaha di bidang perhiasan dan masih aktif dengan berbagai komunitas dan kegiatan. Anak t...

Sajak Cikie Wahab (Riau Pos, 23 Nov 2014)

Steppenwolf : Herman Hesse Sebotol murgindi Segelas cherry brandy Nyaris kosong dalam sebuah ruangan sepi Ia berdiri dengan kaki pincang Dan gaduh malam yang membuatnya Enggan pulang Mencium bau araucaria Di sekitar pangkal lengan Ia menyebut dirinya liar Separuh isinya kenangan Seluruh dirinya ilalang gersang Dalam hamparan ratus petualangan Seperti mitologi yang digambarkan masa silam Ketika ada yang menariknya kembali Dari sebuah rumah tanpa pagar besi Dan sebuah perasaan yang tidak ia kenali Ia terus mencoba melepaskan diri Berlari kian kemari Merutuki kasih Dan lelaki itu hidup dari sepi ke sepi Tak peduli pada harapan Tak lelah pada tantangan orang Sesungguhnya ia telah kehilangan Atas apa yang telah ditunjuki kehidupan Gempita yang ditelan kesesatan Musim Berkepanjangan Semusim lagi, aku mencoba bertandang ke arah sinar yang benderang Di mana kaki-kaki tenggelam dalam keriangan Mengisap bayang yang kelam dan perlahan menembus ruang Aku menc...

Cerpen MAYAN (Padang Ekspres, 23 Nov 2014)

Oleh Cikie Wahab Kami masih duduk mengelilingi sebongkah tanah berwarna merah yang tadi malam ditemukan keparat itu dari hamparan ladang. Bongkahan yang padat itu tampak seperti batu, namun ketika Mayan menggerus benda itu dengan ujung kukunya yang runcing, butiran halus bertaburan ke atas papan. Mayan melihat diriku dan si keparat dalam tempo cepat. Ia membuatku seperti ditikam dengan pernyataan yang mengakibatkan separuh denyut nadiku berdetak cepat. Mayan bangkit dari duduknya dan membuka jendela. Seketika itu angin kemarau masuk dan memberi aroma ilalang kering ke syaraf hidungku. Aku ingin bersin dan secepatnya mengeluarkan sehelai tisu dari dalam saku celana yang koyak. Di sudut ruangan, keparat yang dipukuli Mayan tadi malam tergolek di atas kursi papan. Wajahnya lebam dengan coretan dari ujung kuku yang runcing itu. Mayan bisa saja mengambar kepala singa di wajah si keparat. Tetapi ia melihat keparat itu dengan sediki pertimbangan. Kasihan, jika istri si keparat meli...

RAHASIA HUJAN, RAHASIA MENGERIKAN

  Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya... Penulis         : Adham T. Fusama Genre          : Teenlit-Thriller Penerbit      : Moka Media. 2014 Format        : Paperback, 272 halaman ISBN           : 979-795-857-4       Apa kau benar-benar mempercayai orang yang baru saja kau  kenal? Sesekali jangan. Sebab banyak kemungkinan yang terjadi jika kau terjebak dalam situasi buruk seperti apa yang dialami Pandu. Membaca novel thriller yang diberi judul RAHASIA HUJAN ini menawarkan sebuah kejadian yang tidak bisa ditebak. Ditebak dalam makna mempercayai seseorang yang begitu kita yakini kebaikannya. Bahkan jika bertahun-tahun telah mengenal seseorang kita belum tentu mengetahui sisi buruk dari orang tersebut. Hujan yang senantiasa memberikan dua efek pada diri manusia. ...

Kaktus di Kepalaku

@Jawa Pos. 14 september 2014 Kaktus di Kepalaku Cikie Wahab Kami menuruni bebatuan setelah melihat matahari terbenam dan lampu-lampu mulai dihidupkan penduduk distrik Sembilan.  Aku mendengar suara ibuku dari kejauhan. Ia memanggil kami, aku dan anjing kecil bernama Tomodi. Yang sejak sore mendaki bukit batu. Bermain-main sehabis pulang dari pelajaran yang membosankan. Tomodi mengibaskan ekornya sambil menggonggong. Kami berkejaran. Ia mendahuluiku dan berhenti di depan pintu. Ibu berdiri di sana, menenteng keranjang berbentuk kubus tempat ia biasa menaruh pesanan bunga. Sebelum aku duduk di samping Tomodi, ibu menyodorkan keranjang itu ke mukaku. “Selo. Kau antarkan ini ke rumah Maryam. Ia sudah menunggu ini sejak kemarin.” Aku diam. Mengintip isi keranjang, “Kaktus!” seruku. Ibu tak menjawab. Ia menaruh keranjang ke tanganku lalu ia bergegas masuk mengangkat telepon yang terus berdering. Dua buah kaktus berwarna hijau menyembul dari dua pot kecil. Aku men...