Skip to main content

Posts

KAMISAN #9 ~PULANG ~ Berkemas

Pulang. Ada raut keceriaan di mana-mana. Tidak terkecuali para pegawai RUNSHOP.   Tiga minggu pasca ramadhan, mereka: Malika, Nadia, Kembang Koli dan Mas Roji sudah mendapat libur selama dua minggu penuh. Nah, mari kita intip bagaimana mereka berpose untuk liburan Lebaran J Malika. Perempuan yang terkadang cuek dengan hal-hal besar namun peduli pada hal-hal kecil ini begitu antusias ingin pulang ke rumah orang tuanya di Sumatra. Lihatlah bagaimana ia membawa begitu banyak barang. Nadia. Dengan gaya yang khas, Nadia selalu membuat kelucuan mendadak. Bukan hanya piawai membuat martabak telor asin, tetapi ia nekat pulang tanpa terlebih dulu memilih barang yang akan dibawanya. Kembang Koli. Aslinya ia peduli pada Malika dan Nadia, tetapi sikap dingin dan ambisinya menjadi pemain teater kerap membuat Koli seperti perempuan sombong dan sering berselisih paham dengan Nadia. Padahal ia begitu lucu.dan penyayang. Mas Roji. Sikap cool yang begi...

Kamisan #8 PERLINA ~Gaun dan Sepatu~

Malika tersenyum melihat Mas Roji menunggu dirinya di parkiran. Dua jam lalu mereka memang bersepakat akan pergi ke suatu tempat berdua saja. Tidak ada teman yang tahu. Bahkan Nadia. Malika naik ke dalam mobil dan mendesah. “Mas yakin ini tidak apa-apa?” tanya Malika dengan raut wajah menyesal. “Tentu saja. Aku ingin kau membantuku memilihkan gaun untuk seseorang.” “Tapi…” “Kenapa lagi.” “Sudahlah. Ayo kita pergi.” Mobil melaju dan Malika termenung. Sebelum keluar ruangan, Nadia sudah mengatakan padanya untuk segera pulang lebih dulu. Nadia tidak bisa pulang bersama karena lembur dan Malika malah berbuat sesuatu yang pastinya menyakiti Nadia. Tapi Mas Roji sendiri telah mempunyai seseorang yang ia sukai. Malika harus memberitahu sahabatnya itu untuk segera menghapus perasaannya agar perlina. Ah Malika ingat kata itu. Kata yang ditulis Nadia di atas kertas dengan tinta merah. Perlina yang artinya pupus. Barangkali Nadia ingin menghapus kekagumannya. Malika tambah berse...

KAMISAN #7 Game of Love ~Pelajaran Bermain~

Seorang perempuan mulai bercerita kepada saya tentang daftar orang-orang yang terjebak dalam permainan cintanya. Yang setidaknya masih melekat dalam ingatannya saat ini. 1.    Ia mengenal lelaki yang bernama Ardi lewat seorang kawan. Pada umur dua puluh tahun dan ia merasa sudah sangat dewasa ketika itu. Hubungannya kandas dalam beberapa minggu. Pekerjaan benar-benar menyita waktunya hingga lelaki itu mencari pelarian 2.    Perempuan itu patah hati lalu bertemu lelaki pemilik warnet. Mereka cukup akrab dan ia berharap pada lelaki itu. Tetapi sebab katanya lelaki itu punya reputasi sebagai keluarga berada, perempuan itu pergi dan tak pernah menginjakkan kaki di warnet lagi. 3.    Beberapa waktu kemudian perkenalan dengan Kevin, lelaki berwajah oriental dan beda keyakinan sempat membuat mereka pergi ke taman pada hari libur. Ciuman tragis dan kebencian pada sosok lelaki membuat perempuan itu akhirnya memutuskan mengganti seluruh nomor telepon. I...

KAMISAN #6 ~Martabak Telur~ Apa Rasanya?

Setelah satu menit ia terpaku menatap bungkusan plastik dalam laci mejanya, Nadia mengangkat wajah dan mendengarkan Kembang Koli bicara. “Kau membawa makanan? Aku bisa menciumnya dari mejaku.” “Oh kau ini. Apa hanya makanan saja yang bisa kau cium? Aku memang bawa makanan tapi bukan untukmu.” “Hahaha. Aku tahu itu untuk Mas Roji, bukan?” “Hush.” Nadia geram. Ia pikir perkataan Kembang Koli agak lancang. Tak seorangpun bisa memastikan perasaannya dan ikut campur dalam beberapa hal pribadi. Ia mengalihkan tatapannya pada Malika dan Mas Roji yang kembali masuk ruangan. “Sudah. Jangan minta maaf padaku.” Malika mengomentari tatapan memelas sahabatnya itu. Meskipun ia tahu Nadia tengah linglung dengan perasaannya sendiri sehingga tidak bisa memenuhi undangan kantor. Nadia sekali lagi membuka bungkusan dan berbisik pada Malika yang ada di sebelah mejanya. “Kau mau martabak telur?” Malika menoleh dan mendekat. Mulanya Malika mencoba meneliti isi bungkusan, kemudian ia ambil sa...

KAMISAN #5~Wishy Washy~ Nona Wishy Washy

Nadia lupa membungkus makanan yang sudah ia buat untuk Mas Roji. Makanan itu masih ditaruh dalam kantong kresek hitam dalam laci mejanya. Ia hanya duduk mencoret kertas dan tidak memperhatikan Malika yang berdiri di depannya. Malika menyodorkan kertas undangan acara pada Nadia. Nadia terperanjat, ia kaget dan menaruh mukanya di atas meja. “Aku izin. Aku ndak semangat mau pergi.” “Tapi kan kau yang janji, Nad. Aku juga sudah kadung janji dengan Keriting Koli. Dan ini tugas kantor.” Nadia membuka laci dan memperlihatkan makanan itu. “Sumpah. Aku kehilangan mood karena ini.” “Ya ampun.” Malika mendengus kesal. Ia duduk di kursinya sendiri. Dari tempat ia duduk ia perhatikan Mas Roji yang tengah mengetik surat. Pikirnya Nadia jatuh cinta di saat yang tidak tepat. Mas Roji kemarin baru saja menyatakan bahwa ia menyukai seorang perempuan. Malika meminta Nadia mengirimkan makanan itu segera sebelum Mas Roji sarapan di luar kantor. Nadia menggeleng. Ia masih panik dan tidak tahu...

KAMISAN #4 ~HALUSINASI~ "Rasa Bersalah yang Datang Setelah Ia Jatuh Cinta"

Ketika perempuan itu kebingungan dan duduk di sebuah bangku panjang, ia menjadi sebuah kesunyian dan tidak menemukan kehidupan lain di sekitarnya. Ia berusaha membunyikan napasnya kuat-kuat agar ada yang mendengar dan bertanya padanya, di mana lelaki itu? Di mana orang yang menyatakan cinta padamu? Sekali lagi, perempuan itu memandang ke jalan. Yang tampak baginya adalah orang-orang bergerak seperti angin yang lambat. Dan ia justru mengeluarkan tangisan secara perlahan. Mereka datang dan pergi, mereka utuh membawa dirinya kembali. Perempuan itu hanyut dalam perasaannya yang suci. Namun ia membuka mata dan menemukan seseorang memeluknya. Ia menoleh dan meminta persetujuan atas apa yang terjadi bukanlah hal yang ia inginkan. Bangku panjang itu jadi terasa sangat kecil dan dingin. Dan dengan caranya yang terlihat ganjil perempuan itu berusaha tersenyum. Bagaimana ia bisa mengatakan tentang kelicikan cinta yang datang dan membuat ia berpura-pura menikmatinya. “Malika. Ada a...

Kamisan #3 ENDORFIN ~ Katakan Cinta~

“Hei kau tak perlu berteriak seperti itu. Tenanglah.” Malika terdiam. Dadanya naik turun sehabis menjerit sekuat tenaga. Di   hadapannya Tamim menarik satu kursi kayu dan duduk di sana “Kau pikir aku setan? Aku memanggilmu sejak tadi.” “Ka…kau…?” Malika gugup. Sangat gugup. “Kenapa kau ada di sini?” Lelaki itu. Malika ingat betul bagaimana wajah Tamim yang merah padam setelah mendapat penolakan darinya ketika berada di Batam. “Aku bukan anak kecil, Lika. Aku bisa kemana saja aku mau.” “Kau yang mengirimi aku kartu itu? Kenapa?” “Tentu saja untuk kejutan.” “Kejutan?” “Apa kau senang?” “Tidak. Aku tidak suka caramu.” “Tapi aku bahagia. Menghubungimu membuatku menjadi tenang.” “Dengan cara begini? Kau harusnya belajar, Tam. Bagaimana kau bisa menarik hati seseorang.” Malika mendengus kesal. Ia bisa menguasai degup jantungnya kembali. Lelaki itu tersenyum. Membuka kotak rokok dan memantik api. Tak lama asap tipis melayang-layang di hadapannya. “Memandan...